Weekend Getaway: Jalan-Jalan ke Kuching di Sarawak via Nanga Badau

Masih cerita mengenai sewaktu penempatan dinas di Putussibau, jadi seperti yang saya ceritakan sebelumnya bahwa kota Putussibau adalah sebuah kota kabupaten yang kecil dan sepi jauh dari keramaian namun penuh dengan kesahajaan penduduknya yang menjaga kearifan lokal. Sampai 2 bulan baru terasa kota ini terasa sepinya, semua penjuru kota, wisata dan kuliner hampir semua sudah dicoba. Kepikiran untuk jalan-jalan ke kota besar, main ke Pontianak sudah bosan juga, tiba-tiba ketika lagi ngobrol dengan tetangga mereka menyarankan saya untuk mencoba jalan ke Kota Kuching di Sarawak. Tidak perlu pikir panjang lagi, ide dari tetangga tersebut langsung menjadi rencana saya kebetulan juga bawa paspor, kemudian tanpa menunggu langsung saya cari-cari info bagaimana caranya pergi ke Kuching dari Putussibau ini. Untuk mengingat bahwa jika menggunakan jalan darat Kota Putussibau lebih dekat ke Kuching (8 jam) dibandingkan ke Pontianak (14 jam).

Setelah banyak bertanya dengan orang-orang, saya pun mendapat info bahwa dari Putussibau ini banyak rental mobil beserta sopir untuk ke Kuching dengan berbagai penawaran haga dan service. Melalui rekomendasi tetangga saya yang baik hati ini maka didapatlah perusahaan rental yang cocok harga dan servicenya yaitu All in Rp. 4 juta untuk weekend. Berhubung saya perginya dengan 3 orang dan sharing cost maka harga tersebut cocok bagi kami. Untuk rental mobil tersebut, harga telah termasuk 3 hari 2 malam perjalanan weekend, bensin selama perjalanan, pas masuk imigrasi kendaraan, sewa dan makan sopir. Harga rental mobil bisa menjadi makin murah jika makin banyak orang tapi harus sesuai dengan muatan mobil Kijang Innova. Oh iyaa Sekadar info bahwa mobil dengan plat nomer kendaraan Indonesia bebas untuk masuk ke negara tetangga di Kalimantan seperti Serawak, Sabah dan Brunei asalkan telah memenuhi syarat yaitu membayar pas masuk (berlaku 30 hari) dan tidak menggunakan kaca film gelap.

Kami merencanakan pergi pada hari sabtu subuh pukul 3 dini hari, mengapa memilih waktu berangkat seperti itu? ini untuk menyesuaikan jam operasional Pos Lintas Batas Negara (PLBN) kedua negara di Badau (Indonesia) dan Lubok Antu (Malaysia) yaitu pukul 6:00 – 17:00. Jika kami pergi jumat sore sepulang bekerja PLBN pastinya sudah tutup. Jarak tempuh Putussibau – Badau adalah 4 jam dengan karakteristik jalan berkelok-kelok sebagian besar jalan sudah diaspal hotmix namun terdapat beberapa spot yang masih campuran batu dan tanah. Lebar jalan juga sangat kecil hanya cukup untuk berselisih 2 kendaraan saja.

Pukul 7 pagi kami telah sampai di Nanga Badau, sebuah kota kecamatan di garda depan perbatasan NKRI dengan Malaysia bagian timur. Kami singgah sebentar di warung makan sebelum PLBN untuk sarapan dan buang air kecil, sempat ngobrol dengan penduduk setempat bahwa mereka ternyata membeli semua keperluan rumah tangga dari Malaysia bahkan aliran listrik juga disupply dari negara tetangga. Pukul 7:30 kami sampai di PBLN untuk melakukan pemeriksaan paspor dan proses imigrasi, selagi pak sopir mengurus pas masuk kendaraan kami jalan-jalan dulu di sekitar PBLN. Kondisi PBLN Nanga Badau ini sangat menyedihkan hanya sebuah bangunan kecil, jelek, tidak terawat bahkan untuk mengambil sidik jari musti menggunakan tinta cap, sangat tidak merepresentasikan kebesaran dari Bangsa Indonesia. Namun pada maret 2017 lalu Bapak Presiden Jokowi telah melakukan renovasi besar-besaran pada PBLN Badau ini dan kabarnya sekarang sekarang sudah menjadi bangunan megah dan canggih, saya pun jadi ingin berkunjung kembali. Ini saya tampilkan PBLN sebelum dan sesudah direhab, gambar yang sudah direhab saya ambil dari google.

Terima kasih Pak Jokowi dan saya pun jadi bangga melihat progress pembangunan Indonesia khususnya di perbatasan sehingga ga bikin kita minder jadi Bangsa Indonesia. Proses imigrasi di PLBN kedua negara berlangsung cepat asal kita memenuhi semua persyaratan yang diajukan. Kota perbatasan Serawak adalah Lubok Antu, jarak tempuh Lubok Antu ke Kuching adalah ±4jam, dan ternyata kondisi jalan bikin minder lagi karena jalan raya bagian Malaysia ini sangat besar, 5x lebih besar dari jalan sebelumnya yang saya lalui di bagian Indonesia dan jalanan tersebut sangat mulus sampai ke Kuching tidak ada lubang maupun jalan rusak di perjalanan. Pukul 12 siang kami telah sampai di Kuching, karena belum bisa check-in di hotel (pukul 14:00) kami jalan-jalan dulu keliling kota, shalat di Kuching Mosque dan makan siang di Serawak Plaza. Dekat Sarawak Plaza ini ada Landmark paling terkenal di Kota Kuching yaitu Cat Monument. Untuk penginapan, hotel maupun hostel banyak tersedia di Kuching tinggal mencari lokasi strategis, saya sarankan untuk mencari penginapan yang berjarak radius 1 km dari Kuching Waterfront atau Sarawak Plaza karena disekitar tempat itu mudah untuk akses ke tempat wisata atau mencari makan.

Setelah check-in di penginapan kami langsung jalan ke tempat paling ramai di kota Kuching yaitu Kuching Waterfront, tempat ini adalah sebuah daerah pinggir sungai Serawak yang membelah kota Kuching, dikelola dengan baik oleh pemerintah setempat sehingga menjadi tempat wisata dan jika malam tempat tersebut berubah menjadi hawker center. Di seberang dari Kuching Waterfront ini kita dapat melihat gedung parlemen Kuching atau esplanade yang berbentuk sangat unik.Jika kita ingin mengarungi Sungai Serawak ini sambil berkeliling kota menggunakan water taxi, kita bisa membeli tiket Sarawak River Cruise, namun harga tiketnya pastilah tidak murah dan agak kurang cocok bagi backpacker. Kesan awal setelah berjalan-jalan sampai sore di Kuching adalah kota ini walaupun kecil tidak sebanding dengan kota-kota di Kalimantan lainnya namun sangat bersih, jalanan yang lebar, tata kota yang tertata rapi, dan rakyatnya yang tertib, hal seperti ini harus kita contoh dalam membangun kota-kota di Indonesia.

 

Malamnya kami sengaja untuk berkeliling pusat perbelanjaan di Kuching, karena tergolong kota maju maka kita bisa dengan mudah menemukan mall berisi barang bermerk international di kota ini. Selain Sarawak Plaza, di Kuching juga ada Plaza Merdeka, Vivacity Megamall, Cityone Megamall, Boulevard dan yang paling hits dikalangan muda adalah The Springs. Malam dihabiskan dengan keliling shopping mall sampai bosan maklum di Putussibau tidak ada mall dan baru pulang ke penginapan pukul 22.

Untuk hari ke-2 ini kami berencana ke Cat Museum dan Damai Beach. Paginya sarapan dulu ke Carpenter Street, yaitu semacam china town yang disana banyak hawker center, karena kota Kuching ini dihuni oleh bermacam etnis seperti Melayu, Chinese, Dayak, India, dll maka kita sebagai muslim musti pilih-pilih untuk mencari tempat makan yang halal, namun jangan khawatir biasanya tempat makan halal ada mencantumkan stiker dari halal dari otoritas setempat. Untuk sarapan pagi ini saya pilih makan Kolok Mee, yang ini adalah makanan khas dari Serawak, kalau di Indonesia semacam mie yamin dengan topping udang dan ikan dilengkapi kuah kaldu yang sangat gurih.

Sehabis sarapan, tidak jauh dari carpenter street ini ada kuil tertua yang ada Kuching yaitu Tua Pek Kong Temple, lokasi adalah tepat di tengah-tengah putaran jalan besar. Rencana awalnya pengen masuk ke dalam dan melihat-lihat temple dari dekat namun pada saat itu sedang banyak orang yang beribadah jadi kami mengurungkan niat untuk berunjung. Sebagai gantinya kita main lagi ke Kuching Waterfront, untuk melihat-lihat kegiatan pagi disana dan cari cemilan. Pukul 11 kami berangkat menuju ke Cat Museum, perjalanan dari Kota ke Cat Museum ini lumayan jauh karena terletak di Kuching bagian utara, lama perjalanan sekitar 40 menit dan kalau tidak salah kita akan melewati jalan tol. Kata orang-orang tidak sah ke Kuching tanpa mengunjungi Cat Museum.

Cat Museum ini sesuai namanya semua berisi tentang hewan kucing, dari Cat Museum ini kita jadi tau sejarah pemberian nama Kuching pada kota ini. Jaman dahulu Kuching adalah dibawah kekuasaan kesultanan Brunei Darussalam namun akhirnya jatuh ke tangan kolonial Inggris, dikarenakan di kota ini banyak terdapat hewan kucing di jalanan maka diberikanlah nama Kuching sebagai nama kota tersebut. Di Cat Museum ini selain sejarah kota Kuching juga banyak terdapat patung, lukisan, mainan, poster, kartu pos bahkan ada kuburan yang semuanya memiliki tema kucing. Kalau kamu sebagai penggemar dan pemelihara kucing maka jika berkunjung ke museum ini rasanya sangat senang, karena banyak sekali pernak-pernik kucing yang lucu dan menggemaskan disini. Gerbang masuknya saja seperti kucing yang sedang membuka mulut, jadi bisa dibilang ini merupakan museum hello kitty versi Malaysia. Jika kamu pengen kesini, museum buka dari pukul 9:00 – pukul 17:00 dan jika masuk ke dalam kita tidak boleh membawa alat perekam seperti mobile phone, kamera dll, kalau mau membawa masuk handphone harus membayar RM 3 dan RM 5 untuk kamera.

Setelah puas berkeliling Cat Museum kita Ishoma dulu, kemudian sorenya kami beranjak pergi menuju destinasi berikutnya yaitu Damai Beach. Destinasi ini sebenernya adalah rekomendasi dari pak sopir kami yang sudah sering bolak-balik ke Kuching, perjalanan menuju Damai Beach dari kota lumayan jauh menempuh perjalan 45 menit, di sepanjang perjalalan pemandangan yang akan kita temui didominasi dengan bukit-bukit dan hutan. Sesampai di Damai Beach, ternyata pantai ini tidak terlalu spesial bagi kita orang Indonesia yang banyak memiliki pantai indah, namun bagi orang disini Damai Beach sudah dinilai indah sehingga ketika kami datang pantai ini sangat ramai, mungkin karena di Malaysia pantainya sedikit. Sewaktu ke Damai Beach saya mersakan pantainya agak kotor dan bau, apakah mungkin karena pengaruh dari ramainya pengunjung atau memang bau laut. Ikon dari Damai Beach ini adalah patung burung rangkong besar di pelataran pintu masuk pantai, burung ini memag asli Pulau Kalimantan dan termasuk satwa dilindungi bagi Indonesia. Overall wisata ke Damai Beach ini worth it untuk mengisi waktu luang di Kuching.

Destinasi terakhir dari perjalanan kami di Kuching adalah ke Top Spot Bukit Mata, tempat ini adalah surganya makanan laut atau seafood, buat yang punya keluhan kolesterol sebaiknya lupakan aja dulu karena tempat ini tidak boleh kita lewatkan kalau ke Kuching. Layout dari Seafood Hawker Center Bukit Mata ini seperti layaknya foodcourt, dengan pilihan lebih dari 50 foodstall. Tidak hanya yang menjual seafood, tetapi ada makanan dan minuman lain tapi 80% dari foodstall adalah seafood. Lokasinya ada di UTC Buiding Kuching di Top Floor, jadi kalau mau kesana musti cari dulu UTC Building ini kemudian cari parkiran mobil trus cari lift yang ada di parkiran kemudian naik sampai topfloor, agak tricky memang untuk menemukan Bukit Mata ini. Untuk masalah kehalalan makanan hampir sebagian besar dari foodstall menjual makanan halal, yang menjual minuman beralkohol di pisah tempatnya dengan yang halal. Jam operasional dari hawker center ini dari pukul 6 sore sampai tengah malam, tapi lebih baik datang sebelum pukul 6 karena semakin malam tempat ini semakin ramai dan susah mencari spot duduk.

Foodstall di tempat ini semua diberikan nomer agar kita mudah memilihnya, rekomendasi saya adalah foodstall 25 namun saya juga sempat mencoba ke foodstall 8 ini juga bisa menjadi pilihan. Di Topspot bukit mata ini kita tinggal pilih seafood segar dari berbagai macam ikan laut, udang, lobster, cumi, sotong, kepiting, gurita, berbagai macam kerang, sayur-sayuran segar, dll. Pilihan kami malam itu jatuh pada Ikan bawal bakar, kepiting saus pedas manis, udang saus tiram, tumisan kerang, cah kangkung, capcay dan minumnya ice lemon tea. Paket pesanan tersebut telah termasuk nasi per porsi dan berbagai macam saus tambahan. Untuk hargasaya juga sempat kaget karena harga di Topspot Bukit Mata ini sangat terjangkau tapi saya lupa habis berapa waktu itu tapi percaya deh tidak mahal dan sangat wajar bagi kantong.  Saya sampai saat ini belum menemukan Seafood Hawker Center seperti Bukit Mata ini di Indonesia.

Setelah kekenyanagan semalam di Bukit Mata, esoknya kita pulang kembali ke Putussibau kembali ke kehidupan nyata lagi di kota yang kecil dan sepi. Pengen rasanya kembali lagi ke kota Kuching namun sampai saat ini belum terlaksana untuk kembali kesana untuk mencoba seafood lagi.

Happy Traveling All 🙂

It's only fair to share...Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on Reddit
Reddit
0Share on LinkedIn
Linkedin
Print this page
Print
Email this to someone
email

I love to travel and eat some local food. I also like to blog, where I post about travel, food, and lifestyle. I believe that traveling is not just a way to have fun, but traveling is to find a new experiences, inspiration and upgrading our soul to the next level.
2 comments
  1. Hi, I plan to go to putussibau from lubok antu via nanga badau border. Can I have suggestion where can I rent a car aroundputussibau? Thanks

    1. Hai Thank you visiting my post.. for rent a car in Putussibau, I recommend you to contact my friend Mr. Yudi +62 812 57112008.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *