Weekend Getaway: Trekking dan Bermain Air di Curug Malela

Indonesia dengan bentang alam nya yang luas dan indah seperti selalu memiliki miniatur wisata dari seluruh dunia, sebagai contoh adalah Curug Malela. Curug atau air terjun ini memiliki penampakan mirip dengan air terjun Niagara yang ada di Amerika Serikat, tidak seperti kebanyakan air terjun yang memiliki bentuk menjulang tinggi dan menyempit, Curug Malela berbentuk lebar dan bertingkat persis dengan air terjun niagara namun dalam bentuk mini. Lokasi Curug ini berada di Kabupaten Bandung Barat. Secara administratif, Curug Malela ini berada di Kampung Manglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, kalau dilihat dari lokasi Kabupatennya tidak jauh dari Kota Bandung tapi kalau kondisi aktualnya air terjun ini memiliki lokasi yang jauh, agak sulit dijangkau dan tersembunyi. Para traveler selalu berprinsip jika ada suatu objek wisata yang berlokasi jauh, tersembunyi dan sulit dijangkau pastilah memiliki pemandangan yang sangat indah. Saya pun dan teman-teman perjalanan memegang prinsip tersebut.

Weekend Gateway kali ini saya pergi bersama teman-teman yang dulu pernah bersama trekking ke Gunung Krakatau, yaitu mas yayas, mas leo, bang el, mbak mira, mbak mae, ayu, arief, jali dan bang edwin. Jadi trip ke Curug Malela ini direncanakan dengan sangat mendadak dan minim persiapan. Setelah searching sana sini akhirnya kita bikin perencanaan, ternyata dari trip-trip report yang ada kondisi perjalanan ke lokasi Curug Malela dari jalan utama sangat berat apalagi jika kondisi hujan karena masih banyak jalan belum diaspal, hanya berlapis batu dan tanah. Untungnya pada saat itu kita dapat bantuan dari bang edwin (suaminya mbak mae), beliau mau ikutan juga dengan membawa mobil 4×4 WD double cabin nya.

Meeting point pada perjalanan kali ini adalah di Plaza Semanggi, lokasi ini dipilih karena dekat dengan tempat kerja teman-teman. Jadi setelah pulang kerja beberapa teman tidak pulang ke rumah namun langsung lanjut ke Curug Malela. Pukul 22:00 diambil menjadi patokan kita untuk berkumpul. Estimasi perjalanan dari Jakarta – Curug Malela adalah sekitar 7 jam, jadi kami rencanakan pada pukul 23:00 kita sudah memulai perjalanan. Namun pada pukul 23:30 kami baru bisa berangkat karena mobil elf rental kami terlambat datang dikarenakan ban mobil nya pecah di jalan saat akan menjemput kami. Sebelum pergi ke Malela usahakan agar menyiapkan bekal makanan yang banyak, karena perjalanan ke Malela ini sangat janrang terdapat warung makan atau convenience store.

Berikut rute yang akan kita jalani dari Jakarta sampai ke Curug Malela:
Jakarta – Cipularang – Padalarang – Batujajar – Cihampelas – Cililin – Tagogan – Gunung Halu.

Lengkapnya:
Jakarta – Padalarang kita tempuh melalui tol Cikampek Purbaleunyi selama 2.5 jam.
Padalarang – Pos ojek Malela, jarak tempuh adalah sekitar 80 km dan ditempuh selama ±3.5 jam. Kondisi jalan saya tidak terlalu paham karena malam dan di perjalanan saya lebih banyak tidur, yang saya rasakan jalan dari Padalarang – Gunung Halu jalanan lumayan besar namun Gunung Halu – Pos Ojek Malela jalanan lebih banyak tikungan dan agak sedikit berlubang.
Pos Ojek Malela – Check Point Masuk Curug Malela, jarak tempuh ±5km dengan kondisi jalan tanah merah dengan batu-batu. Traveler biasanya memiliki pilihan untuk naik ojek atau jalan kaki, sedangkan kami waktu itu karena membawa mobil 4×4 WD maka tidak perlu bayar ojek yang mahal dan capek berjalan kaki, tinggal naik ke AFT deck mobil saja dan selama 1 jam kita offroad. Untuk kendaraan pribadi seperti mobil elf kami bisa parkir di dekat posko ojek, disana juga ada warung dan tempat beristirahat.


Check Point – Curug Malela, jarak tempuh 2km namun melalui medan tanah berbatu naik turun sehingga bisa ditempuh sekitar 1 jam, jalur ini kita tempuh dengan trekking.

Total 8 jam kami untuk mencapai Curug Malela dari Jakarta, pengalaman yang paling tidak dilupakan adalah ketika offroad melawati jalur dari posko ojek ke posko check point, walaupun hanya berjarak 5km namun medan yang dilalui sangat berat, saya sarankan walaupun membawa mobil 4×4 WD namun sopirnya juga harus yang berpengalaman kalo tidak mau stuck di tengah jalan. Di posko check point masuk ada 1 warung dan saung yang lumayan besar untuk kita beristirahat setelah mengalami perjalanan berat untuk offroad. Pos tersebut lumayan bersih jadi kita bisa istirahat, makan dan sholat di sana, untuk air bersih bisa minta ke warung yang di sebelah posko. Karena kami sampai pagi di posko, teman-teman langsung pesan ke pemilik warung untuk membuatkan kami makan siang karena rencananya siang kami telah kembali kesini lagi, agar tidak perlu susah-susah lagi mencari makan siang dan pemilik warung menyanggupi. Yeay!!

Sebenernya ada iuran masuk objek wisata ini untuk pemeliharaan dan kebersihan sekitar Rp 5000,- cukup murah namun waktu kami kesana tidak ada petugas yang meminta, mungkin belum pada bangun petugasnya pagi-pagi. Awal perjalanan trekking dari posko check point kita akan menghadapi jalan menurun yang terjal namun jangan khawatir karena sudah ada jalan setapak paving block beserta undakan tangga, namun beberapa undakan terseut sudah terlihat hancur tidak terawat.

Kondisi medan trekking menuju Curug Malela ini didominasi dengan turunan, karena lokasi curug adalah di bawah bukit yang kita naiki ketika offroad. Setelah turunan melalui paving block, kita akan menemui medan dataran dengan jalan setapak dari tanah, jalan setapak ini akan sangat licin jika kondisi hujan, jadi lebih baik menggunakan sepatu trekking atau sendal gunung untuk trekking ke Curug Malela ini. Kalau sebelumnya pemandangan yang kita lihat adalah hutan belantara dengan pepohonan rindang, ketika medan datar ini kita dikelilingi oleh area persawahan berundak yang sangat indah, kebetulan ketika kami traveling padi-padi disawah tersebut sedang menguning semua sehingga pemandangan menjadi sangat menakjubkan bagi saya. Oh iyaa jangan sampai terlena dengan pemandangan indah karena medan yang kita hadapi lumayan terjal dan sempit, harus hati-hati agar tidak terjatuh ke area persawahan atau jurang.

Setelah melalui persawahan ini kita akan menemui sebuah shelter yang tujuannya mungkin dijadikan sebagai check point dan tempat istirahat para trekker yang menuju Curug. Selama 15 menit kami istirahat di shelter ini untuk minum air dan makan sedikit bekal yang ada, dekat shelter ini juga ada pancuran air yang airnya sangat bening disini kita juga bisa minum langsung atau mengisi bekal minum untuk sisa perjalanan.  Menurut saya sebagian besar jalur trekking di sini masih masuk dalam level bersahabat dengan para trekker pemula, jalur yang agak sulit adalah ketika akan sampai di curug, kita harus sedikit mendaki terbing yang licin dan kemudian menyeberang sungai cidadap yang meruakan sungai aliran Curug Malela. Untuk mendaki tebing dan menyeberang sungai ini kita harus hati-hati karena batuan licin dan aliran sungai agak deras, jika ada akar tumbuhan yang menggantung lebih baik diraih untuk berpegangan.

Setelah menyeberang sungai kita sudah sampai di Little Niagara atau Curug Malela. Memang benar tentang ungkapan para traveler bahwa objek wisata yang tersembunyi dan sulit dijangkau itu pasti memiliki pemandangan yang menakjubkan. Curug Malela berdiri tinggi dengan sangat anggun mengalirkan air deras dari setiap undakan air terjun yang bertingkat. Curug Malela memiliki air terjun yang terpisah saat jatuh dengan 5 jalur yang ada. Curug Malela merupakan air terjun paling atas dari rangkaian tujuh air terjun sepanjang 1 km. Urutannya adalah Curug Malela, Curug Katumiri, Curug Manglid, Curug Ngebul, Curug Sumpel, Curug Palisir dan terakhir Curug Pameungpeuk.

Walaupun hari minggu, kondisi curug ketika kami datang masih sepi hanya ada kelompok kami saja, hal ini mungkin kedatangan kami yang masih terlalu pagi yaitu pukul 08:30. Tapi ini menjadi keuntungan karena kami bebas mau foto-foto di curug tanpa harus terlihat banyak orang lain di foto. Malahan bukan manusia yang kami temukan tapi segerombolan monyet ekor panjang yang sedang minum dekat air terjun, mungkin mereka habis sarapan bersama. Kondisi debit air juga sedang bagus, tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar, ini karena kedatangan kami diujung musim penghujan yang merupakan waktu terbaik untuk ke Curug Malela sekitar bulan Maret – April. Jika musim hujan kondisi air akan terlalu deras dan berbahaya serta kotor bewarna coklat tanah sedangkan jika musim kemarau aliran air akan sanga kecil dan hanya ada batu-batu. Di dekat lokasi curug juga ada lokasi untuk tempat baginyang akan camping, lumayan luas tetapi lokasinya agak kotor karena orang yang camping sebelumnya meninggalkan sampah sembarangan, sungguh disayangkan.

Kegiatan utama disini adalah foto-foto dan berenang, untuk foto-foto musti hati-hati ketika naik batuan besar karena kondisinya sangat licin sedangkan untuk yang berenang agar hati-hati terhadap arus deras dan berputar didekat air terjun. Suasana di Curug ini sangat bikin betah, mungkin karena bunyi air terjun yang jatuh memang bikin addictive dan bikin tenang. Oh iyaa disini kita ga cuma senang-senang foto dan berenang tapi juga ngumpulin sampah yang beberapa ditinggalkan oleh wisatawan sebelumnya. Disini kita menghabiskan waktu sampai jam 11:00, berhubung snack yang dibawa sudah habis dan menjelang siang perut sudah minta diisi karena lapar, kami pun bergegas untuk kembali ke posko. Selama perjalanan kembali ke posko kita sering berpapasan wisatawan lain yang baru datang, ternyata benar penyebab curug sepi adalah kami datang kepagian.

Sekitar pukul 12 kita sudah sampai lagi di posko check point dan ternyata makan siang sudah disiapkan oleh pemilik warung, menu kami kali ini adalah telur dadar, ikan asin, sambal pete, semur jengkol, berbagai jenis lalapan dan kerupuk. Walaupun menunya sederhana tapi dimakan dengan suasana alam yang indah dan rame-rame, rasanya sangat enak sampai terakhir sudah tidak ada sisa lagi. Selesai Ishoma, pukul 14:00 kita semua  pulang kembali ke Jakarta. Overall wisata ke Curug Malela ini menjadi rekomendasi saya, karena selain curugnya yang sangat indah juga perjalanannya yang menantang, buat traveler penyuka adventure pasti sangat senang ke Curug malela ini.

Tips terakhir untuk wisata ke Curug Malela adalah usahakan kita sudah kembali ke check point sebelum pukul 17:00 kalu tidak ada rencana camping karena kondisi jalan pulang sudah sangat sepi dan biasanya menjelang sore kawasan ini diguyur oleh hujan sehingga membuat jalan menjadi sangat licin. Dan yang terpenting menjaga kebersihan tempat wisata yang kita kunjungi.

Happy Traveling all 🙂

It's only fair to share...Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on Reddit
Reddit
0Share on LinkedIn
Linkedin
Print this page
Print
Email this to someone
email

I love to travel and eat some local food. I also like to blog, where I post about travel, food, and lifestyle. I believe that traveling is not just a way to have fun, but traveling is to find a new experiences, inspiration and upgrading our soul to the next level.
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *