Weekend Getaway: Menjelajah Sejarah di Pulau Cipir, Kelor dan Onrust

Coba sebutkan tempat wisata yang ada di Provinsi DKI Jakarta!? Pasti kebanyakan dari kita menyebutkan tempat wisata belanja seperti mall, plaza, tanah abang, cafe2 hits, dll. Sebagian kecil pasti ada yang menjawab wisata Kota Tua dan sebagian kecil lainnya mungkin menjawab Kepulauan Seribu. Tapi tahu ga kalo di Prov. Jakarta ada wisata yang sarat akan sejarah berlokasi di Teluk Jakarta dan hanya berjarak ±1jam perjalanan laut tidak seperti Kep. Seribu yang terletak agak jauh dari Jakarta. Tiga Pulau sejarah yang banyak dilupakan oleh orang yaitu Pulau Cipir, Pulau Kelor dan Pulau Onrust. Lokasi ketiga pulau kecil ini ada di Laut Utara Jakarta dan saling berdekatan, konon dulunya 3 pulau ini adalah sebagai benteng pertama menjaga Jakarta (Batavia) dari serbuan musuh. Dahulu kala ketiga pulau ini saling bersambungan satu sama lain namun karena abrasi laut dan ledakan Gunung Krakatau (1883) memisahkan mereka menjadi 3 pulau.

Bagaimana menuju ke Pulau Cipir, Kelor dan Onrust?

Saat ini sudah banyak operator Open Trip yang menawarkan jasa 1 Day Trip menjelajahi ketiga pulau tersebut, biasanya meeting point ada di pelabuhan Kamal Muara (Jakut) dan kemudian kita akan dibawa oleh kapal ukuran sedang menuju ketiga pulau tersebut. Untuk menuju pelabuhan Kamal Muara berikut petunjuk dari saya:

– Jika menggunakan Transjakarta, silahkan turun di Halte Rawa Buaya kemudian menyeberang jalan ke arah flyover Rawa Buaya dimana menjadi tempat angkot omprengan Kamal Muara ngetem.
– Jika menggunakan Commuter Line, silahkan turun di Stasiun Rawa Buaya kemudian bisa berjalan kaki menuju flyover atau naik ojek dengan biaya 10-15rb, bilang saja ke tukang ojeknya mau ke tempat angkot Kamal Muara.
– Di bawah flyover Rawa Buaya banyak angkot omprengan (plat hitam) berjenis carry atau zebra menuju ke Kamal Muara, biaya perjalanan 7-8rb, lama perjalanan sekitar 40 menitan.
– Turun di Pelabuhan ikan Kamal Muara biasanya traveler menjadikan Masjid pelabuhan sebagai meeting point.

Saya pun juga menggunakan jasa operator Open Trip untuk wisata kali ini. Jumlah peserta lumayan banyak hari ini sekitaran 30 orang, yang paling jauh berasal dari Palembang yang jauh-jauh datang untuk ikutan trip ini. Pukul 8:00 saya sudah sampai di Pelabuhan Kamal Muara, meeting point saat itu ada di Masjid Kamal Muara dan sudah ramai dengan peserta. Suasana Pelabuhan Kamal Muara ini sangat ramai dengan perdagangan ikan apalagi saat itu tepat hari minggu lengkap dengan bau amis ikan yang turun dari kapal nelayan, buat yang ga tahan dengan semua itu masjid kecil di tengah pelabuhan ini menjadi tempat yang cocok buat ngadem. Kami baru bisa berangkat melaut pukul 9:00 agak telat 30 menit dari jadwal karena kapal musti mengisi bahan bakar terlebih dulu.

Urutan itinerary wisata 3 pulau ini adalah Kamal – Kelor – Onrust – Ishoma – Cipir – Kamal. Kondisi cuaca selama perjalanan cerah berawan dengan angin dan gelombang laut yang lumayan besar. Ini menyebabkan kapal musti berputar-putar terlebih dahulu mencari jalur aman sebelum mendarat di Pulau Kelor, 1 jam lebih perjalanan kami untuk sampai di Kelor dari Kamal.

Pulau Kelor

Pulau Kelor adalah pulau terkecil menjadi destinasi pertama kami, kalau dibayangkan dengan berlarian sekitar 5 menit juga pualu ini kita bisa kelilingi. Di Pulau Kelor ini terdapat bangunan ikonik dan menjadi landmark pulau yaitu Benteng Martello. Benteng ini punya bentuk sederhana seperti tabung, namun untuk konstruksinya tidak perlu diragukan terdiri dari susunan batu bata sangat tebal yang berfungsi menahan gempuran artileri musuh, terdapat beberapa lubang tempat keluarnya meriam untuk menyerang ke segala arah. Dulunya Pulau Kelor ini difungsikan sebagai benteng pertama untuk menahan sekaligus menyerang musuh VOC yang datang untuk menaklukkan Batavia dan Benteng Martello menjadi saksi sejarah dirinya menjadi tameng gempuran dari pasukan Inggris, Jerman, Jepang, bahkan Para Pejuang Kemerdekaan dari laut.

Saat ini Benteng Martello hanya tinggal reruntuhan namun hal itu juga yang membuatnya menjadi eksotis dan indah. Sayangnya beberapa daratan Pulau Kelor sudah mulai terkikis oleh abrasi laut, untuk mencegah hal itu kita bisa melihat banyak dam2 yang dipasang untuk menahan abrasi di pulau ini, semoga kedepannya pulau ini masih utuh tidak tenggelam akibat adanya abrasi karena banyak sejarah tersimpan disini.

Selama 1 jam kami berada di Pulau Kelor ini, tidak banyak yang bisa dilakukan di pulau kecil ini selain keliling berjalan ke tepi Dam laut dan foto-foto di Benteng Martello. Selanjutnya kami lanjut ke Pulau Onrust, jarak dari Kelor adalah 40 menit perjalanan laut.

Pulau Onrust

Kami sampai di Pulau Onrust tepat sebelum tengah hari, diantara ketiga pulau, Onrust merupakan yang paling besar dan lengkap fasilitasnya disini juga tersedia mushala serta air bersih sehingga pas sekali bagi kami menjadikan Onrust sebagai tempat Ishoma. Menurut guide kami, nama Onrust berasal dari bahasa Belanda yang artinya “tidak pernah berhenti’. jadi sejarahnya dulu Pulau ini diberikan oleh Pangeran Jayakarta kepada VOC untuk digunakan sebagai tempat perbaikan kapal dan penyimpanan rempah-rempah yang kegiatannya tidak pernah berhenti siang malam.

Ada beberapa spot wisata yang dapat kita kunjungi di Pulau Onrust ini, diantaranya:

  • Reruntuhan Karantina Haji Batavia

Jadi dulunya dari tahun 1911 – 1933 di Pulau Onrust ini dijadikan tempat karantina jemaah haji dari Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Ceritanya jemaah haji pada jaman dulu berangkat ke Mekkah dengan menumpang kapal dagang Belanda, kapal tersebut tidak setiap hari atau setiap minggu mampir ke Batavia namun bisa sampai sebulan, sehingga jemaah haji dalam rangka menunggu kapal tersebut datang ditampung sementara di Pulau Onrust ini. Dalam penantian tersebut tidak sedikit jemaah haji meninggal dunia terkena penyakit malaria dan karena minimnya fasilitas kesehatan juga. Saat ini sisa-sia reruntuhan barak asrama haji masih bisa kita lihat walaupun hanya tembok runtuh dan pondasi. Setelah banyaknya jemaah haji meniggal dunia di pulau ini akhirnya asrama haji tersebut ditutup pada 1933 dan kemudian dialihfungsikan sebagai penjara tahanan politik dan kriminal. Ketika Jepang berkuasa di tanah air Pulau ini malahan dijadikan tempat eksekusi mati para pejuang kemerdekaan. Ketika pasca kemerdekaan bangunan disini juga pernah digunakan untuk menahan pemberontak DI/TII Kartosuwiryo sebelum dieksekusi mati di Pulau Ubi

  • Pemakaman umum tentara dan administrator Belanda

Di Pulau Onrust ini yang paling mencolok selain reruntuhan asrama haji adalah banyaknya pemakaman. Menurut guide di Pulau ini dulu memang difungsikan sebagai pangkalan armada laut Belanda sehingga ditempat ini banyak pekerja administrasi dan tentara. Mereka sebagian besar meninggal dunia karena wabah malaria yang menyerang Pulau bahkan pernah pulau tersebut dikosongkan selama 1 tahun karena seua penghuninya meninggal akibat wabah tersebut. Makam belanda yang paling terkenal di tempat ini adalah makam Maria van de Velde, berbagai versi yang menceritakan penyebab kematian si noni Belanda. Ada cerita karena wabah malaria tetapi ada versi yang menceritakan si noni bunuh diri karena kekasihnya meninggalkannya demi wanita lain. Yang pasti keberadaan makam-makam ini membuat Pulau Onrust memiliki aura horor apalagi ketika malam hari.

  • Museum Sejarah Onrust

Spot berikutnya yaitu Museum Arkeologi Onrust, dulunya ditempat ini merupakan sebuah penjara dan tempat mengadu para tahanan menjadi tontonan para serdadu Belanda. Sebelum mengunjungi museum ini kita Ishoma dulu, makan siang sudah disipakan oleh panitia dengan menu nasi kotak masakan padang, lumayan untuk mengisi energi untuk keliling pulau. Di museum ini banyak disajikan artefak-artefak peninggalan masa lalu di Pulau Onrust, seperti meriam, artileri, guci-guci kuno, perhiasan, lukisan kuno, dll. Kalau kamu pengen tahu sejarah Jakarta dan Pulau-Pulau ini di museum ini juga lengkap script yang menceritakan itu semua.

Setelah puas explore di Pulau Onrust, pukul 13:30 kami pun bergerak menuju Pulau Cipir, berjarak 15 menit perjalanan laut dari Pulau Onrust. Pulau Cipir sedikit lebih kecil dari Onrust, tidak memiliki dermaga jadi kapal langsung merapat di sekitar karang yang melingkari pulau.

Pulau Cipir

Hal yang menarik dari Pulau Cipir ialah walaupun berupa pulau karang namun ada pantai berpasir putih disini yang bisa dinikmati oleh wisatawan dengan bermain air dan berenang. Selain ada pantai yang bagus di Pulau Cipir ini yang paling utama adanya bekas reruntuhan rumah sakit besar Batavia. Rumah sakit Belanda ini dulu difungsikan untuk merawat orang-orang yang memiliki penyakit menular, selain itu rumah sakit ini juga berfungsi sebagai rumah sakit haji karena lokasinya yang berdekatan dengan Pulau Onrust, ada juga yang mengatakan fungsinya untuk merawat orang-orang yang punya kelainan jiwa. Walaupun sudah berbentuk reruntuhan, sisa-sisa bagian rumah sakit ini masih bisa kita lihat seperti kamar-kamar untuk merawat pasien, bekas kamar untuk operasi, bekas kamar mandi, dll. Berjalan melewati bagian-bagian reruntuhan rumah sakit ini kita serasa memasuki mesin waktu dan kembali ke masa lampau.

Selain reruntuhan rumah sakit, di Pulau Cipir ini kita bisa melihat peninggalan beberapa meriam yang kabarnya masih bisa difungsikan, meriam tersebut dulu difungsikan sebagai alat pertahanan dari serangan musuh karena Pulau Cipir ini termasuk bagian dari base armada laut Belanda. Selain wisata sejarah di Pulau Cipir ini kita juga bisa bermain di pantainya yang berpasir putih, memancing juga bisa menjadi kegiatan asik di pulau ini. Oh iya di pulau ini juga banyak warung-warung penduduk lokal yang menjual berbagai macam makanan, jadi jangan kuatir jika tidak membawa bekal, untuk hargnya paling agak mahal sedikit dari harga normal.

Menjelang sore pukul 15:30 kami bersiap untuk pulang kembali ke Jakarta karena kondisi cuaca yang mulai gelap, dan ±1jam alhamdulillah kami sudah mendarat dengan selamat di Kamal Muara. Untuk biaya traveling one day trip 3 pulau ini saya mengeluarkan biaya sebesar 75rb dihitung dari Pelabuhan Kamal Muara, biaya ini sudah termasuk transportasi laut untuk island hoping sekaligus sandar kapal, konsumsi makan siang, biaya masuk tempat wisata, dan asuransi perjalanan.

Dari traveling ke 3 Pulau ini saya mendapat tambahan pengetahuan baru mengenai sejarah Republik Indonesia yang tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah. Dari trip ini juga saya mengerti bahwa “Kita bukan mengingat dan mengagumi kejayaan penjajah namun mengetahui lebih jauh sejarah perjuangan bangsa Indonesia”

Happy Traveling All 🙂

It's only fair to share...Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on Reddit
Reddit
0Share on LinkedIn
Linkedin
Print this page
Print
Email this to someone
email

I love to travel and eat some local food. I also like to blog, where I post about travel, food, and lifestyle. I believe that traveling is not just a way to have fun, but traveling is to find a new experiences, inspiration and upgrading our soul to the next level.
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *