Putussibau: Kapuas, Arwana dan Kerupuk Basahnya

Jadi 3 tahun lalu, saya pernah ditugaskan di sebuah kota di Pulau Kalimantan yang bernama Putussibau kurang lebih selama 6 bulan. Mungkin sebagian besar kita masih asing dengan nama Putussibau tersebut, banyak dari kita lebih familiar dengan kota besar seperti Pontianak, Balikpapan, Banjarmasin, atau kota kabupaten seperti SIngkawang, Pangkalan Bun, Berau dll. Putussibau merupakan ibukota dari Kabupaten Kapuas Hulu di Provinsi Kalimantan Barat, terletak tepat di tengah-tengah Pulau Kalimantan sehingga kota ini juga memiliki julukan “The Heart of Borneo”

Mungkin banyak yang belum tau, kota ini adalah tempat dimana dimulainya aliran air dari sungai terpanjang di Indonesia yaitu Kapuas, lebih dari 1000 km aliran Sungai Kapuas berhulu di Kabupaten Kapuas Hulu. Putussibau juga merupakan salah satu dari 3 kota border terluar NKRI dengan negara tetangga Malaysia selain Entikong dan Nunukan, yang pada bulan maret 2017 lalu baru saja diresmikan Gedung Pos Lintas Batas Negara (PLBN) yang baru di Nanga Badau, salah satu kecamatan di Kab. Kapuas hulu. Memang jarang sekali kota Putussibau ini masuk dalam bahasan di media-media nasional, padahal beberapa objek wisata alam yang indah dan salah satu Ikan hias paling terkenal berasal dari sini. Salah satu objek wisata yang indah adalah Danau Sentarum, danau lahan basah terbesar di Asia dan airnya adalah sumber dari Sungai Kapuas, ketika musim hujan danau ini akan terisi penuh namun ketika kemarau akan menyisakan pulau-pulau karena airnya menyusut. Di Danau Sentarum ini juga merupakan asal dari ikan Hias paling terkenal di dunia yaitu Arwana Merah, walaupun saat ini sudah jarang ditemukan Arwana Merah yang hidup liar di danau ini dikarenakan perubahan ekosistem dan perburuan. 

Bagaimana akses ke kota Putussibau? dari Pontianak akses mudahnya yaitu menggunakan jalur udara yaang dilayani oleh 2 maskapai nasional Garuda Indonesia dan Kalstar dengan waktu tempuh 1 jam. Jika menggunakan jalur darat tentunya akan lebih lama sekitar 14 jam waktu tempuh dengan kondisi jalan yang berkelok-kelok. Bandara yang melayani penerbangan di Putussibau ini adalah Bandara Pangsuma, bandara kecil yang dimiliki dan dikelola oleh DepHub ini dapat didarati oleh pesawat dengan jenis ATR 72-600. Jarak bandara ke pusat kota aalah sekitar 4 km. Oh iya akses via darat Putussibau ke luar negeri yaitu ke Kota Kuching di Sarawak malahan lebih dekat dibandingkan ke Kota Pontianak, untuk ke kota Kuching waktu tempuh yang diperlukan hanya 8 jam saja.

Kota Putussibau dibelah menjadi 2 oleh aliran sungai Kapuas dengan penyambungnya yaitu jembatan utama kota sepanjang ±100m, jika sore hari view matahari terbenam dari jembatan ini sungguh indah. Karena sangat dekat dengan Sungai Kapuas maka kota Putussibau ini sering dilanda oleh banjir limpahan sungai ketika musim hujan, oleh karena itu rumah-rumah sebagian besar penduduk disana walaupun sudah permanen tapi dibuat lebih tinggi seperti rumah panggung dengan penyangga kayu ulin yang tahan air. Arwana merah merupakan komoditas utama kota ini walaupun sudah sulit mendapatkan ikan tersebut secara liar namun masyarakat banyak membuat kolam-kolam untuk peternakan arwana merah tersebut, karena mahalnya ikan ini jadi jangan heran jika sekali panen sang peternak bisa langsung membeli mobil keluaran terbaru.

Untuk kuliner khas Putussibau terkenal dengan kerupuk basah, kerupuk disini jangan dibayangkan seperti kerupuk kebanyakan yang bertekstur garing namun kerupuk basah ini suatu makanan seperti pempek palembang terbuat dari ikan kemudian bisa dikukus atau digoreng dengan tekstur lembut dan gurih. Perbedaan dengan pempek yaitu, jika pempek menjadi kuahnya adalah cuka namun kerupuk basah menggunakan saus kacang seperti siomay namun lebih pedas. Rasa kerupuk basah ini memang mirip dengan pempek namun ada perbedaan yang khas dari teksturnya, mungkin disebabkan olehan daging ikan yang berbeda antara pempek dengan kerupuk basah. Kerupuk basah ini menjadi oleh-oleh wajib ketika kita berkunjung ke Putussibau selain juga madu hitam hutan Kalimantan yang sangat terkenal.

Selama penugasan di Putussibau, saya beberapa kali pernah mengunjungi rumah adat suku dayak yaitu rumah betang, biasanya sih diundang jika ada acara adat atau resepsi pernikahan. Rumah Betang ini memiliki karakteristik rumah panggung  dari kayu yang panjang, biasanya bisa mencapai 150 meter dan didiami oleh beberapa kepala keluarga sampai 15-20 KK, membuat rumah ini menjadi sangat ramai. Selain menjadi hunian, rumah betang ini juga berfungsi sebagai tempat diselenggarakannya berbagai acara adat sampai juga pernikahan. Kalau di taman mini juga ada replika dari rumah betang namun pernah masuk ke rumah tersebut yang aslinya menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya, sekaligus dapat melihat kehidupan masyarakat dayak dari dekat.

Oke deh sekian dulu cerita singkat tentang Putussibau dengan pernak-pernik budaya nya. Semoga pemerintah kita semakin menggiatkan pembangunan di kota tersebut, sebagai kota yang menjadi garda depan NKRI karena terletak dekat dengan perbatasan dengan negara tetangga, agar jangan sampai kalah dengan negara tetangga di Sarawak. Karena wajah NKRI pertama kali dilihat dari kota yang menjadi garda depan perbatasannya.

It's only fair to share...Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on Reddit
Reddit
0Share on LinkedIn
Linkedin
Print this page
Print
Email this to someone
email

I love to travel and eat some local food. I also like to blog, where I post about travel, food, and lifestyle. I believe that traveling is not just a way to have fun, but traveling is to find a new experiences, inspiration and upgrading our soul to the next level.
1 comment
  1. […] cerita mengenai sewaktu penempatan dinas di Putussibau, jadi seperti yang saya ceritakan sebelumnya bahwa kota Putussibau adalah sebuah kota kabupaten […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *